Cerita Tiga Babak, Struktur Penulisan Skenario Favorit Sineas Hollywood - IDS | International Design School

Cerita Tiga Babak, Struktur Penulisan Skenario Favorit Sineas Hollywood

Screenplay atau skenario film menjadi sebuah blueprint yang sangat penting agar sebuah film bisa diproduksi. Dalam penulisannya, skenario sendiri dapat dikategorikan menjadi 4 jenis yaitu cerita tiga babak, mozaik, linier, dan eliptis.

 

Cerita tiga babak ini berkembang sangat baik di berbagai perfilman Hollywood. Lantas, sebetulnya apa sih cerita tiga babak tersebut?

screenwriting-main-1400×500-1_0

Mengenal cerita tiga babak

 

Cerita tiga babak pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles di masa kerajaan Yunani Kuno. Konsep ini dianggap sukses dan sudah dilakukan secara turun temurun dalam berbagai jenis storytelling. Namun kemudian konsep yang diusung lebih dulu oleh Aristoteles ini disempurnakan kembali oleh Syd Field dalam sebuah buku berjudul Screenplay.

 

Cerita babak mementingkan keterikatan penonton pada jalan cerita, dan dianggap sebagai storytelling klasik dimana cerita bergerak menuju klimaks lewat struktur tiga babak. Tiga babak dalam cerita ini terdiri dari tahapan pengenalan atau beginning pada babak 1, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan konflik pada babak 2 (middle), dan terakhir babak 3 (ending) biasanya berisi penyelesaian dari konflik yang terjadi di babak 3 sekaligus resolusi.

 

Masing-masing babak ini dipisahkan oleh plot point (PP) yang juga biasa disebut dengan key turning point. Plot point atau key turning point bisa dijadikan sebagai penanda bagi karakter utama dalam mencapai tujuannya. Menggunakan cerita tiga babak dalam penulisan skenario akan membuat kamu memiliki struktur cerita yang solid, rinci. Terarah, namun tetap memberikan efek dramatis.

 

Dalam bukunya Writing The Script , Wells Root menuliskan bahwa  cerita yang baik bisa diibaratkan layaknya sebuah sungai yang membawa tokoh protagonis ke arah air terjun. Proses tokoh protagonis sampai ke air terjun ini dibagi dalam tiga babak berikut.

 

Babak I

Secara umum, babak 1 biasanya berisi pengenalan karakter beserta latar problem yang ada dalam kehidupan mereka. Problem inilah yang kemudian akan berkembang pada babak-babak berikutnya. Beberapa hal yang harus ada dalam babak 1 antara lain:

 

  1. Karakter protagonis dalam status quo

Di bagian ini tokoh protagonis ditunjukkan dalam sisi kehidupan sehari-harinya. Sebagai penulis skenario, kamu bisa memberikan highlight pada keseharian si tokoh untuk menampilkan sisi dramatis di awal cerita. Misalkan, tokoh protagonis kamu berprofesi sebagai pedagang kaki lima, maka kamu bisa menggambarkan rutinitasnya yang sedang dikejar-kejar Satpol PP.

 

  1. Point of attack

 

Di bagian ini kamu bisa merancang cerita dimana tokoh protagonis pertama kali mendapatkan pukulan baik secara fisik, emosional, mental, atau gabungan dari semua hal tersebut. Pukulan ini bisa serangan fisik atau gangguan dari tokoh lain. Sementara pukulan mental bisa berupa kegelisahan hidup yang dia alami. Selai hal negatif, kamu juga memberikan momen positif yang dapat memunculkan konflik di masa datang.

 

  1. Protagonis dengan konflik utama

 

Sebuah skenario yang baik semestinya membuat penonton mudah memahami konflik yang tengah menjerat tokoh utamanya sehingga secara emosional bisa ikut arus bagaimana si tokoh utama bersusah payah untuk menyelesaikan konflik tersebut. Konflik yang terjadi pada tokoh utama ini bisa disebabkan karena karakter lain, setting, sistem, nasib, atau konflik batin dengan diri sendiri.

 

  1. Genre film

 

Di babak 1 ini juga kamu harus menentukan genre dari film yang akan dibuat. Genre sangat menentukan suasana seperti apa yang akan muncul dalam diri penonton nantinya. Dengan menentukan genre yang lebih jelas akan mempermudah penonton mensetting ekspektasi mereka, apakah horor, drama, komedi, atau action. Dan ekspektasi penonton inilah yang sebaiknya dijaga sampai akhir film.

 

Babak II

Di babak kedua inilah terjadi tahap pengembangan mengenai konflik-konflik yang dialami oleh protagonis. Seringnya di fase ini tokoh baru menyadari tentang bahaya yang tengah ia hadapi demi mewujudkan impiannya tersebut. Kompleksitas masalah terus berkembang dalam babak ini, sehingga para pula penulis skenario pun ikut diuji, apakah ceritanya cukup memuaskan bagi penonton. Di sini pula penonton dibuat penasaran akan seperti apa ending di babak selanjutnya sehingga kamu harus membangung curiosity, suspense dan surprise.

 

Babak III

Babak ketiga ibarat berakhirnya sebuah tugas dari tokoh protagonis. Di sinilah semua konflik dapat terselesaikan, baik itu keberhasilan sang tokoh utama ataupun kegagalan yang tragis baginya. Penyelesaian dalam film biasanya berupa happy ending atau sad ending. Namun kebanyakan film-film terkenal memilih akhir happy ending untuk menyenangkan penonton. Namun kembali lagi kepada sang penulis, ingin membuat ending yang seperti apa, yang pasti nggak ada loh penonton yang suka sad ending, ya kan?

 

Untuk kamu yang ingin terjun ke dunia industri film yang profesional, kamu bisa mengikuti program college digital film & media production di IDS |International Design School.

 

Posted in: Articles