Jadi Primadona di Indonesia, Yuk Cari Tahu Lebih Dalam Soal Film Dokumenter! - IDS | International Design School

Jadi Primadona di Indonesia, Yuk Cari Tahu Lebih Dalam Soal Film Dokumenter!

IslBG

Bosan nonton film superhero, drama, ataupun action? Nggak ada salahnya loh menambah referensi film dengan nonton film dokumenter. Apalagi saat ini industri film dokumenter di Indonesia kini sudah mulai berjaya. Jika yang dulunya sepi peminat kini film dokumenter menjadi salah satu genre yang cukup diminati. 

Pengertian Film Dokumenter

Film dokumenter adalah film nonfiksi yang dimaksudkan untuk mendokumentasikan realitas, terutama untuk keperluan pengajaran, pendidikan, atau mempertahankan catatan sejarah. Mulanya, film dokumenter disebut film “aktualitas” dengan durasi selama 1 menit atau malah kurang. 

Seiring berjalannya waktu, film dokumenter berkembang menjadi lebih panjang dan memasukkan lebih banyak kategori, seperti pendidikan, pengamatan, dan bahkan dokumentasi. Dokumenter juga bersifat mendidik dan sering digunakan di sekolah untuk mengajarkan berbagai prinsip. Platform media sosial seperti YouTube, telah menjadi salah satu media pendistribusian film dokumenter yang lebih mudah dijangkau banyak orang. 

Ciri Utama Film Dokumenter

Ciri utama film dokumenter adalah menyajikan sebuah fakta yang berhubungan tokoh, peristiwa, hingga lokasi yang nyata. Berbeda dengan fiksi yang kebanyakan tokoh serta settingnya memang sengaja dibuat untuk memberikan kesan lebih nyata. Film dokumenter juga tidak menciptakan suatu peristiwa melainkan merekam peristiwa yang tengah terjadi tersebut. Selain itu film ini juga tidak memiliki tokoh protagonis, antagonis, karena bisanya dokumenter mengangkat isu-isu yang sedang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Strukturnya juga relatif sederhana sehingga mudah dimengerti oleh para penonton. 

Teknik Pengambilan Gambar Film Dokumenter

Meski konsep film dokumenter adalah merekam kejadian nyata, namun tetap harus memperhatikan pengambilan gambarnya, Teknik pengambilan gambar film dokumenter sendiri ada tiga yaitu Kino Pravda, Cinema Verite, dan Post Modern Documentry.

Kino Pravda pertama kali dipopulerkan oleh sineas Rusia bernama Dziga Vertov dengan konsep Kino Eye yang merepresentasikan mata kamera. Pengambilan gambar ini dilakukan dengan merekam seluruh aspek di luar subjek dan objek termasuk properti. Salah satu karya Vertov yang terkenal adalah Man With a Movie Camera (1929), isinya tentang rekonstruksi gambar yang didapat melalui kamera. Film ini berhasil menyampaikan pesan subjektif kepada penonton. 

Cinema Verite adalah teknik yang sudah akrab di kalangan sineas Perancis. Dengan teknik ini mereka bertugas sebagai pengamat yang merekam sebuah peristiwa.  Umumnya sineas yang memakai teknik ini akan menggunakan peralatan tambahans eperti tripod, crane, atau dolly camera movement. Beberapa film yang memakai teknik ini antara lain Nanook of The North (1922) atau Triumph of The Will (1935).

Terakhir, teknik Post Modern Documentary yang mengkombinasikan antara teknik cinema verite dan dramatical visual. Teknik ini menggali lebih dalam mengenai semiologi dan semiotika yang ada pada sebagian bear film dokumenter. 

Industri Film Dokumenter di Indonesia

Saat ini film dokumenter tengah berjaya di Indonesia, apalagi setiap tahunnya Yogyakarta menjadi tuan rumah Festival Film Dokumenter Internasional yang diselenggarakan pada bulan Desember. Bahkan saat ini film dokumenter karya anak bangsa sudah masuk pasar Internasional. Terakhir tercatat bahwa film dokumenter kita masuk dalam jajaran Festival Film Dokumenter di Berlin. Menurut Nia Dinata, sejauh ini film dokumenter Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. GImana, apa kamu tertarik bikin film dokumenter?

SOURCE: 1 2 3 4

Posted in: Articles