Pasar Film Indonesia Belum Optimal, Industri Film Nasional Punya Masa Depan Cerah - IDS | International Design School

Pasar Film Indonesia Belum Optimal, Industri Film Nasional Punya Masa Depan Cerah

Pasar Film Indonesia Belum Optimal, Industri Film Nasional Punya Masa Depan Cerah

Dunia film Indonesia diperkirakan akan memiliki masa depan yang cerah. Kesimpulan ini ditarik jika melihat pertumbuhan film dan jumlah penonton di Indonesia yang terus meningkat. Menariknya lagi, pasar film Indonesia juga belum maksimal dengan jumlah bioskop yang masih sangat kurang.

Dari data yang ditampilkan situs pemerintah (indonesia.go.id), dalam tiga tahun terakhir, jumlah penonton film Indonesia terus naik. Dimulai dari tahun 2015 yang mencapai 16,2 juta penonton. Angka ini naik hingga lebih dari 100 persen menjadi 34,5 juta penonton di tahun 2016. Selanjutnya di tahun 2017, jumlah penonton film Indonesia kembali naik menjadi 40,5 juta dan ditutup dengan angka lebih dari 50 juta penonton di tahun 2018.

Kenaikan jumlah penonton bioskop di Indonesia juga dibarengi dengan jumlah film yang diputar tanah air. Di tahun 2018 contohnya, dalam waktu setahun jumlah film yang ditayangkan di bioskop mencapai lebih dari 200 judul film setelah di tahun sebelumnya hanya 143 judul film.

Pertumbuhan Bioskop Mendorong Minat Nonton 

Kenaikan jumlah penonton di Indonesia juga disambut dengan baik oleh industri bioskop tanah air. Ini bisa dilihat dari penambahan layar lebar di Indonesia yang tumbuh cepat dari mulai 800 layar lebar menjadi 1800 layar lebar dalam kurun waktu 3 tahun. Pertumbuhan layar lebar ini juga yang menjadikan Indonesia berada di peringkat ke-16 terbesar dunia untuk pasar film-film box office. Peringkat ini masih bisa naik lagi mengingat jumlah layar lebar di Indonesia ini belum ideal. Dengan jumlah penduduk mencapai 260 juta jiwa, jumlah layar lebar yang ideal seharusnya di kisaran 10 ribu layar lebar.

Tak hanya jumlah layar lebar yang tak memadai, penyebarannya juga dinilai tidak merata. Laju pertumbuhan jumlah penonton di Indonesia bisa meningkat lagi jika layar lebar mampu menembus semua ibu kota kabupaten di Indonesia. Hal ini diakui oleh Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia Djonny Syafruddin, “Keterlibatan negara dibutuhkan untuk membenahi ekosistem perfilman nasional’” katanya. Penyebaran layar lebar yang tak merata juga bisa mempersempit akses masyarakat untuk menonton film layar lebar.

Beberapa provinsi di Indonesia yang belum memiliki layar bioskop menurut data di tahun 2019 beberapa di antaranya : Aceh, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Papua Barat, dan juga Sulawesi Barat. Menurut Djony, peran serta pemerintah diharapkan bisa memperluas jangkauan layar lebar di Indonesia. Bisa dengan memberikan akses kredit kepada investor lokal atau juga bisa dengan memberikan kemudahan akses dana dengan bunga murah khusus untuk membangun bioskop. Untuk pembangunan 1 bioskop kurang lebih diperlukan dana sekitar Rp2,5 milar.

Industri Film Nasional Bergairah, Mulai Dilirik Pasar Internasional

Di acara CineAsia, konvensi film tahunan terbesar di Asia disebutkan jika Indonesia merupakan pasar film paling potensial di kawasan Asia Pasifik. Dengan tingkat pertumbuhan jumlah penonton yang fantastis, di tahun 2018, CineAsia malah menyebut Indonesia sebagai The Rise of the Sleeping Giant.

Kenaikan jumlah penonton di tanah air ini juga dibarengi dengan bergairahnya produksi film nasional. Tak hanya dari segi kuantitas, melainkan dari sisi kualitas gambar, suara maupun konsep yang disajikan. Salah satu produser kenamaan Indonesia, Sheila Timothy bahkan berhasil menggandeng studio 20th Century Fox untuk menggarap film Wiro Sableng. Ini merupakan kerjasama perdana 20th Century Fox di Asia Tenggara. Masuknya 20th Century Fox juga diikuti Lotte, perusahaan film ternama asal Korea Selatan yang melakukan ekspansi di tanah air dengan menanam modal.

Kebangkitan industri film nasional juga bisa dilihat dari semakin banyaknya genre film yang diproduksi para sineas tanah air. Contoh yang terbaru adalah Gundala yang bagian dari Bumi Langit Cinematic Universe, yang mengusung genre superhero dengan didukung teknik pengolahan gambar modern. Menyusul Gundala, film dengan genre serupa yang dikabarkan akan tayang adalah Gatotkaca. Sama halnya dengan Gundala, Gatotkaca juga superhero komik yang pernah booming di Indonesia. 

Sumber: 1 2

Posted in: Articles


WhatsApp chat