Pandu Birantoro Berbagi Pengalaman di “FIRST TIME FILMMAKER" - IDS | International Design School

Pandu Birantoro Berbagi Pengalaman di “FIRST TIME FILMMAKER”

Di hari Sabtu pagi yang lalu, tepatnya pada tanggal 12 Juli 2014, IDS | International Design School kembali mengadakan Open House yang kali ini mengusung tema : Seminar & Info Session Day “FIRST TIME FILMMAKER”. Acara ini dilaksanakan di kampus IDS, Pejaten Barat – Jakarta Selatan dan dihadiri sekitar 50 orang audience yang tentunya sangat tertarik dengan bidang film. Acara dimulai dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang dengan pembicara seminarnya adalah seorang sineas muda Indonesia, Pandu Birantoro (@pandubirantoro), yang juga merupakan Program Head of Digital Film and Media Production dari Sekolah Film IDS. Beliau ini lulusan dari Vancouver Film School, Kanada yang pernah mendapat kesempatan menjadi Asisten Sutradara serial TV “Smallville” yang mengisahkan tentang Clark Kent (Superman) muda.

IMG_4620

_MG_4651

 

Setelah dibuka dengan perkenalan, Pandu pun melanjutkan dengan memberi pengantar tentang perbedaan antara tugas producer dengan executive producer. Bagi orang awam, producer adalah orang yang membiayai keseluruhan produksi film, ternyata kenyataannya tidak begitu. Executive producer adalah orang yang bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap jalannya produksi film, namun tidak dalam hal membiayai karena producer pun memiliki divisinya masing-masing. Pandu mempercayai bahwa seharusnya tidak ada yang namanya seniman “kere”, sebab sebuah karya yang dibuat sesungguhnya juga dapat membawa keuntungan materi bila dibuat dengan sungguh-sungguh.

Masuk ke materi utama, yaitu ” First Time Filmmaker”, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan. Menurut Pandu Birantoro, poin-poin tersebut antara lain sebagai berikut :

 

  • Why Do You Want To Be A Filmmaker

Alasan menjadi filmmaker akan menjadi modal awal bagaimana membuat sebuah karya film yang diinginkan. Sesungguhnya setiap manusia sudah diberi bakat filmmaking sejak kecil, mulai dari imajinasi yang muncul saat bermain. Hanya saja tinggal bagaimana cara kita membuat imajinasi tersebut menjadi nyata dalam sebuah karya film. Alasan dan latar belakang untuk menjadi filmmaker otomatis akan berdampak pada tujuan serta hasil akhir dari film yang dibuat.

 

  • To Be A Filmmaker Its To Be A Storyteller

Dalam membuat sebuah film, tentu berisi tentang cerita atau pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton. Apakah mengangkat kisah hidup orang lain, imajinasi atau fiksi dan bisa juga pengalaman diri sendiri. Jika tidak dapat menjadi storyteller yang baik, bagaimana cerita yang kita buat dapat dimengerti orang lain? Karena karya film dibuat bukan untuk dinikmati sendiri melainkan untuk konsumsi orang banyak.

 

  • What Kind Of Story That We Want To Tell?

Jadilah seorang filmmaker yang memiliki jati diri. Jangan membuat film hanya karena mengikuti tren saat ini. Untuk menambah pengetahuan sebagai filmmaker, haruslah memperbanyak menonton film dari berbagai macam genre, sutradara, dan asal negara. Tontonlah film dari yang bagus sampai yang jelek sebagai bahan perbandingan dalam membuat film sendiri.

 

Selain menjelaskan poin-poin di atas, Pandu juga menjelaskan secara singkat tentang pembuatan script dan hal-hal yang dicari producer dari seorang filmmaker, yaitu antara lain; originality, stories, visual quality, dan casting.

Acara pun semakin seru ketika Pandu menyuguhkan screening film pendek karya filmmaker Amerika favoritnya, Tim Burton dan screening film pendek pertama karya Naya Anindita (@NayaAnindita), yang berjudul “Anna & Ballerina”. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyaknya pertanyaan yang diajukan audience, memperlihatkan antusias mereka terhadap topik seminar kali ini.

 

IMG_4621  _MG_4639

_MG_4625  _MG_4629

 

Seusai seminar, Bapak Obed Roberto, selaku General Manager Admission and Partnership IDS pun tidak lupa memberikan informasi tentang program-program di IDS, seperti College Program, alternatif kuliah singkat di bidang Animasi, Film dan Desain. Program lainnya adalah Short Course, kursus singkat dengan 9 pilihan kelas, seperti Desain, Animasi, Film, Fotografi, dan lain-lain. Ada juga International Pathway Program yang merupakan solusi untuk kamu yang ingin melanjutkan kuliah di Australia dengan biaya hemat dan terjangkau, di mana IDS bekerjasama dengan dua universitas terbaik di Australia, yaitu Griffith University dan JMC Academy.

Setelah rangkaian acara Seminar & Info Session Day selesai, pihak IDS mengajak audience berkeliling kampus IDS untuk melihat-lihat ruang belajar, lab dan melihat display portfolio dari siswa-siswa IDS. Para peserta juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai program pendidikan yang ada di IDS.

Itu tadi liputan event Open House : Seminar &  Info Session Day dari IDS. Terus update info dan event IDS melalui Twitter @idsEducationcom, Facebook Fan Page IDS Education, Instagram @idseducationcom dan jangan lupa follow Google+ IDS Education serta klik tombol +1 nya. Jangan sampai ketinggalan event IDS selanjutnya. Sampai jumpa!!

Posted in: News

Comments (One Response )

  1. Juharsen "Joe" - September 26, 2017 - 10:47 am #

    Tolong saya di confirmkan info seminar di tahun ini dan jadwal tahun 2018

DAFTAR SEKARANG