Blog

BAGIKAN

Aspek Rasio Dalam Produksi Film

ratio

Sebagai sineas, saat memproduksi sebuah film kita harus mengerti mengenai aspek rasio dari sebuah film. Pengetahuan dasar seperti ini patut kita ketahui agar film tidak mengalami distorsi visual saat di putar di media yang berbeda, misalnya saja seperti bioskop, televisi, internet, gadget, dan media lainnya. 

Lalu, apa sih rasio film itu? Rasio merupakan perbandingan antara lebar dan tinggi sebuah video. Rasio biasanya ditulis dengan angka sebagai titik dua (:) sebagai pemisah keterangan atau bisa juga dipisahkan dengan “x.” Penggunaan aspek rasio harus disesuaikan dengan jenis layar, seiring berkembangnya teknologi, media pemutar video pun mengalami perubahan. 

Yuk, cari tahu aspek rasio yang paling umum dijumpai?

ratio

  1. Rasio 4:3

Aspek rasio ini hadir terlebih dahulu sebelum rasio 16:10 dan 16:9. Rasio 4:3 banyak digunakan untuk media televisi tabung seperti pada Cathode Ray Tube (CRT) dan layar komputer pada jaman dahulu. 4:3 merupakan rasio default dalam film seluloid 35mm. Rasio 4:3 dinamakan fullscreen sebab rasio ini sesuai dengan seluruh layar perangkat TV atau monitor. Meskipun saat ini terdapat rasio yang lebih besar, namun masih banyak filmmaker yang menggunakan aspek rasio ini sebagai gaya filmmaking mereka.

  1. Rasio 16:9

Rasio 16:9 menggambarkan penggunaan lebar 16 unit dan panjang 9 unit pada film atau televisi. Rasio 16:9 dikenal juga dengan rasio widescreen yang digunakan untuk televisi jenis High Definition Television (HDTV) dan monitor Liquid Crsytal Display (LCD). Rasio 16:9 hadir untuk menggantikan aspek rasio fullscreen 4:3.Rasio ini telah menjadi rasio standar untuk resolusi high-definition pada televisi, layar, dan monitor. 

  1. Rasio 1.85:1

Rasio 1.85:1 diperkenalkan pertama kali di Universal Picture pada Mei 1953. Aspek rasio ini telah digunakan sebagai standar layar lebar modern dan digunakan sebagai patokan untuk beberapa film. Ukurannya memiliki kemiripan dengan 16:9 namun sedikit lebih lebar. Banyak acara TV juga yang telah mencoba untuk menerapkan aspek rasio ini.  

  1. Rasio 1.2:1

Rasio 1.2: dikenal juga dengan movietone. Aspek rasio ini sempat digunakan secara singkat saat masa peralihan industri film yang berhasil menggabungkan media suara pada tahun 1926-1932. Rasio 1.2:1 dihasilkan dari proses pencetakan yang menggunkana sebuah soundtrack optik lebih dari 1.33, oleh sebab itu gambar yang dihasilkan hampir berbentuk persegi.

  1. Rasio 2.35:1

Aspek rasio 2.35:1 pertama kali digunakan oleh CinemaScope dan Panavision. Sehingga aspek rasio ini sering disebut sebagai anamorphic scene. Anamorphic perlahan-lahan berubah menjadi 2.39, namun sering disebut sebagai 2.35 karena konvensi lama. Untuk menghasilkan rasio ini, kamu harus menggunakan lensa anamorphic. Aspek rasio ini terbilang sebagai rasio paling lebar untuk saat ini, sehingga ia dinamai widescreen. Menghasilkan gambar-gambar estetis yang cocok untuk film layar lebar.

  1. Rasio 2.76:1

Saat ini, sutradara kondang seperti Christopher Nolan, Quentin Tarantino, dan Paul Thomas Anderson telah mendorong untuk memunculkan kembali format film 70mm yang memiliki rasio aspek besar 2.76:1. Format film 70mm pada awalnya populer pada tahun 1950-an karena digunakan pada film Ben-Hur. Namun, penggunaannya perlahan memudar. Sehingga Hollywood ingin menarik perhatian penonton dengan sensasi menonton film layar lebar yang berbeda.

Sama halnya dengan aspek rasio yang memiliki ukuran yang berbeda, penggunaannya pun berbeda-beda pula. Kamu bisa menyesuaikan aspek rasio dengan visual projek yang dibutuhkan.

Untuk memahami lebih lanjut bagaimana produksi film bekerja, kamu bisa mencari tahu lewat Program Digital Film & Media Production di IDS | International Design School. Program ini tidak hanya akan mengajarkan materi produksi film namun para siswa juga wajib memproduksi karya mereka sendiri. Kini, telah banyak alumni IDS yang telah bekerja di dunia industri film Indonesia. Bahkan, IDS dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk melanjutkan bachelor’s degree Universitas di Australia. 

Sumber: filmmaker.id