Blog

BAGIKAN

Berkunjung ke Pameran Daya Gaya Decenta di Galeri Salihara, Jakarta

Pada Rabu 31 Mei 2023 lalu, mahasiswa Program Studi Digital Design & Illustration IDS | International Design School berkesempatan untuk berkunjung dan mempelajari sedikit banyak mengenai dunia desain grafis Indonesia dalam Pameran Daya Gaya Decenta di Komunitas Salihara, Jakarta.

Mahasiswa IDS di Pameran Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Andang Kelana.

Daya Gaya Decenta merupakan sebuah pameran yang menampilkan karya cetak saring (istilah yang dikemukakan pertama kali oleh Decenta pada era 1970-an, merujuk pada istilah  screenprinting). Dikuratori oleh Chabib Duta Hapsoro dan Asikin Hasan, pameran ini mempresentasikan arsip dan dokumentasi proyek-proyek dari PT. Decenta (1979) yang berupa  karya desain grafis, elemen estetika bangunan, catatan perjalanan, dokumentasi Galeri Decenta, dan arsip-arsip lainnya dari para pendirinya, antara lain;  A.D. Pirous, Gregorius Sidharta, Adriaan Palar, Sunaryo, T. Sutanto dan Priyanto Sunarto yang diselenggarakan pada 14 Mei–25 Juni 2023 di Galeri Salihara.

Sejak tahun 1973, Decenta bekerja dengan mengadaptasi beragam rupa motif dan karakteristik dari seluruh daerah Indonesia dengan metode cetak saring, fotografi, dan lainnya, sangat mewarnai peran desain grafis dalam membangun keberagaman sebagai identitas budaya Indonesia. Perjalanan Decenta dalam membentuk sebuah biro desain grafis pertama di Indonesia yang diinisiasi oleh para pendirinya sejak tahun 1973, memelopori teknik desain grafis yang disebut dengan istilah cetak saring. Pada awalnya Decenta menggunakan teknik tersebut untuk kepentingan komersial, berjalannya waktu teknik tersebut hadir sebagai misi Decenta untuk mempromosikan seni grafis.Karya cetak saring mereka banyak hadir dalam bentuk sampul poster, sampul buku, maupun karya yang bisa dijadikan elemen dekorasi.

Mahasiswa IDS di Pameran Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Andang Kelana.

Pameran ini menghadirkan arsip dokumentasi dan karya desain yang dibagi ke beberapa bagian dalam bentuk periodisasi. Dimulai dari memperlihatkan aspek kesejarahan berdirinya Decenta, bagaimana para anggotanya menggaungkan wacana identitas kebudayaan dan seni rupa Indonesia,  serta bagaimana Decenta hadir dalam distribusi dan pemasaran seni. Tidak hanya hadir sebagai sebuah biro desain, Decenta juga memiliki sebuah galeri yang aktif menyelenggarakan pameran, diskusi dan lokakarya seni rupa.

Dalam ruang berbentuk silinder, di sekeliling tembok juga dipamerkan karya-karya cetak saring dari pendiri Decenta. Di sana kami dapat melihat bagaimana karya cetak saring desain bisa bersanding dalam ruang seni secara luas, juga bagaimana kelompok ini beradaptasi dengan pengembangan bisnis untuk desain grafis, terutama.

Kami juga  dapat melihat dan membaca bagaimana Decenta tumbuh dan berkembang, serta bagaimana berbagai perubahan dalam budaya, teknologi, dan tren desain memengaruhi karya-karya yang dihasilkan oleh para anggota Decenta. Selain itu, interaksi dengan arsip-arsip dan dokumentasi Galeri Decenta juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang konteks sosial, politik, dan budaya di mana para desainer ini bekerja.

Suasana Pameran di Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Komunitas Salihara – Witjak Widhi Cahya

Dengan diadakannya Pameran Daya Gaya Decenta, cukup memberikan kesempatan bagi para kami, sebagai mahasiswa untuk dapat memperluas pengetahuan dan wawasan tentang dunia desain grafis di Indonesia, serta mengapresiasi kontribusi para tokoh Decenta dalam memajukan bidang ini dengan harapan dapat melanjutkan motivasi dan semangat untuk berpartisipasi dalam kemajuan desain dan seni  Indonesia.

Diambil dari bagian pengantar yang ditulis oleh kurator, pameran ini menggarisbawahi empat perihal kiprah Decenta sejak 1975 hingga awal 1990-an: Pertama, sejarah berdirinya Decenta dan latar historisnya. Decenta terbentuk dalam situasi di mana peran seniman dan perancang mulai dibutuhkan untuk memenuhi permintaan-permintaan baru dalam pertumbuhan ekonomi pada saat itu.

Kedua, pergulatan identitas yang diarungi Decenta yang secara konkret hadir melalui karya-karya mereka, baik seni rupa dan desain, serta berkelindan dengan aspirasi berkelompok dan berinovasi secara artistik dengan gaya yang khas. Bagian ini juga menunjukkan bagaimana gaya artistik Decenta menafsirkan dan membentuk kembali, baik secara langsung atau tidak, kebijakan budaya pemerintah Orde Baru dalam membangun apa yang disebut sebagai identitas budaya nasional.

Suasana Pameran di Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Komunitas Salihara  – Witjak Widhi Cahya

 

Suasana Pameran di Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Komunitas Salihara – Witjak Widhi Cahya

Ketiga, aspek bisnis dan tata kelola Perusahaan Decenta. Bagian in menghadirkan bagaimana Decenta dikelola dan bagaimana pertukaran gagasan dan pengetahuan dilakukan oleh tiap-tiap anggotanya. Decenta menjadi contoh bagaimana pemasaran seni yang didukung oleh profesionalisme mampu menyokong inovasi gaya artistik

Keempat, peran Decenta dalam diseminasi dan pemasaran seni. Decenta memiliki sebuah galeri di Bandung yang menyelenggarakan pameran, diskusi dan lokakarya seni rupa. Ini menunjukkan bagaimana Decenta aktif membangun jejaring seni lintas pemangku kepentingan–negara, korporat, hingga institusi seni dalam dan luar negeri, untuk mempromosikan dan memasarkan karya mereka ke luar negeri dan ke khalayak yang lebih luas. Decenta pun dapat disebut sebagai salah satu aktor pertama yang mendefinisikan ulang profesionalisasi seni di Indonesia yang menempatkan seniman dengan peran-peran baru.

Demikian pengalaman ini saya tulis, dan semoga pameran ini dapat dikunjungi oleh teman-teman mahasiswa lain guna mendalami pengetahuan dan pengalaman tentang desain grafis secara khusus dan seni rupa secara luas.

Mahasiswa IDS di Pameran Gaya Daya Decenta. Dokumentasi oleh Andang Kelana.

Ditulis oleh Adya Saliha Abidin dan diselaraskan oleh Andang Kelana (Program Head Digital Design & Illustration IDS). Adya, (2000, Jakarta), adalah seorang mahasiswi jurusan Digital Design & Illustration angkatan 2022 di IDS | International Design School yang juga salah satu pendiri dan Creative Designer di Misbar Cinema (sebuah komunitas menonton film di ruang terbuka) dan pernah bekerja sebagai seorang Graphic Designer – Art Director Assistant di Dermies (brand skincare) pada 2022.