Blog

BAGIKAN

Alasan Mengapa Profesi Desainer Grafis Kadang Tidak Mendapatkan Penghargaan yang Pantas

monitor untuk desainer grafis

Pandangan umum mengenai profesi desainer grafis sering kali mencitrakan sebagai pekerjaan menarik dengan penghasilan besar. Sehingga banyak orang yang memilih mengejar pendidikan di bidang desain grafis, mulai dari tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga tingkat sarjana, dengan harapan memperoleh gaji dua digit baik saat bekerja di kantor maupun sebagai freelancer. Namun, realitas pekerjaan desainer terkadang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi ini, terutama karena miskonsepsi seputar nilai dan kompleksitas pekerjaan desainer grafis di dalam negeri.

Pernahkah kalian membayangkan betapa melelahkannya bekerja setengah mati, hanya untuk mendapati bahwa imbalannya hanya sebatas ucapan terima kasih? Pengalaman semacam ini mungkin bukanlah hal yang asing bagi para desainer grafis. Dalam menjalankan profesinya, mereka sering kali dihadapkan pada kenyataan bayaran yang tidak sebanding dengan upaya maksimal yang telah diberikan. Selain itu, tugas seorang desainer grafis juga seringkali dihiasi dengan berbagai tantangan, termasuk berurusan dengan klien yang memiliki ekspektasi tinggi dan keinginan yang beragam.

Bayaran yang seringkali dianggap tidak sepadan dengan kerja keras seringkali membuat desainer grafis merenung, apakah mereka benar-benar mendapatkan apresiasi yang setimpal. Selain itu, persepsi masyarakat yang masih salah paham tentang esensi profesi desainer grafis turut memperumit situasi ini. Banyak yang menganggap pekerjaan ini hanya soal menggambar atau membuat visual menarik tanpa memahami kompleksitas di balik setiap karya yang dihasilkan.

Dengan berbagai rintangan ini, desainer grafis harus menghadapi keseimbangan antara mencintai pekerjaannya dan mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan nilai karyanya. Ini menjadi panggilan bagi semua pihak untuk lebih memahami dan menghargai peran serta kontribusi yang diberikan oleh para desainer grafis dalam menciptakan karya-karya yang memukau dan berdampak.

Desain grafis, sebuah bidang profesi yang relatif baru dan semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia, sebenarnya memiliki akar sejarah yang telah hadir sejak zaman dulu, terutama dalam konteks percetakan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, seni desain grafis secara signifikan beralih ke ranah digital. Transformasi ini membawa pergeseran paradigma dalam cara desainer grafis menciptakan dan menyampaikan karya-karya mereka.

Sejalan dengan evolusi teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin terkait dengan perangkat digital, desainer grafis kini terlibat secara intensif dalam menciptakan konten visual yang menarik dan informatif. Mereka tidak hanya terfokus pada bidang percetakan, tetapi juga merambah ke berbagai platform digital seperti situs web, media sosial, dan aplikasi. Peran desainer grafis tidak hanya terbatas pada keindahan estetika, tetapi juga mencakup fungsi komunikatif yang kuat.

Desainer grafis dan ilustrator

Desainer grafis seringkali bekerja untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan informasi perusahaan, salah satunya melalui pembuatan iklan promosi yang menarik perhatian. Dalam era digital ini, keterampilan desainer grafis tidak hanya dihargai karena kekreatifan visual, tetapi juga kemampuannya dalam memahami tren, audiens, dan pesan yang ingin disampaikan melalui media visual.

Satu hal yang menarik dari profesi desainer grafis adalah fleksibilitasnya. Berbeda dengan pekerjaan kantor konvensional, desainer grafis memiliki kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan seringkali dapat bekerja dari mana saja, selama terhubung dengan perangkat digital yang diperlukan. Fleksibilitas ini menciptakan lingkungan kerja yang dinamis dan menginspirasi bagi para profesional desain grafis, yang senantiasa beradaptasi dengan perubahan tren dan tuntutan industri.

Desain grafis, meskipun telah ada sejak lama terutama dalam konteks percetakan, kini meraih kepopuleran yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, seni desain grafis telah menjalani transformasi besar-besaran, beralih dari media cetak tradisional ke ranah digital. Desainer grafis kini tidak hanya terlibat dalam menciptakan materi promosi untuk perusahaan, tetapi juga memainkan peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan visual yang efektif di era digital.

Desain grafis menjadi semakin vital dalam konteks komunikasi dan informasi perusahaan, terutama dalam pembuatan iklan promosi yang menarik dan berkesan. Fleksibilitas pekerjaan desainer grafis menjadi salah satu daya tarik utamanya, memungkinkan mereka untuk menjalankan tugas-tugas kreatifnya tanpa terikat pada lingkungan kerja kantor yang kaku.

Sayangnya, masih banyak orang yang kurang memahami kompleksitas pekerjaan desainer grafis. Terkadang, masyarakat cenderung meremehkan profesi ini dengan anggapan bahwa desain grafis hanyalah tugas yang mudah dilakukan. Ini menjadi tantangan bagi para desainer grafis, terutama mereka yang baru memulai karir, untuk membuktikan bahwa di balik setiap karya yang indah terdapat pemahaman mendalam, keterampilan teknis, dan kreativitas yang luar biasa. Penghargaan dan pemahaman yang lebih baik dari masyarakat terhadap esensi pekerjaan desain grafis dapat membantu menghilangkan stigma negatif yang masih melekat dan merangkul kontribusi berharga yang mereka bawa ke dalam dunia seni dan komunikasi visual.

1. Kurangnya Pemahaman Masyarakat Tentang Desain Grafis

Ketidakpahaman masyarakat terhadap esensi pekerjaan desain grafis seringkali muncul karena sifat relatif baru dari profesinya ini. Beberapa orang masih terjebak dalam anggapan dangkal bahwa desainer grafis hanyalah para pengguna perangkat lunak yang sederhana, melakukan tugas-tugas seperti copy-paste gambar. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks dan mendalam daripada sekadar itu.

Desainer grafis bukan hanya sekadar manipulator gambar dan perangkat lunak. Mereka harus memiliki kemampuan merancang ide-ide kreatif, menggambarkan konsep visual, dan menyusun elemen-elemen estetis yang efektif. Pekerjaan desainer grafis melibatkan proses kreatif yang tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga memerlukan pemahaman mendalam tentang psikologi visual dan komunikasi grafis.

Sebagian besar orang mungkin tidak menyadari bahwa desainer grafis bertanggung jawab untuk menciptakan tampilan visual yang mampu menarik perhatian dan menyampaikan pesan secara efektif kepada audiens target. Mereka harus mampu menghadirkan ide-ide baru dan segar dalam bentuk desain yang estetis dan fungsional. Oleh karena itu, mereduksi pekerjaan desainer grafis hanya sebagai tugas teknis sederhana adalah upaya yang merugikan, karena mereka sebenarnya adalah arsitek visual yang menciptakan pengalaman visual yang menarik dan bermakna bagi orang-orang yang berinteraksi dengan hasil karyanya.

2. Salah Paham Soal Software

Era saat ini memperlihatkan banyaknya perangkat lunak yang muncul dan dapat diakses dengan mudah oleh berbagai kalangan, seperti Canva yang telah menjadi pilihan populer untuk pembuatan desain poster, brosur, dan presentasi. Iklan ini mencerminkan tren di mana banyak orang mungkin merasa dapat menciptakan desain profesional hanya dengan beberapa klik, terutama karena software desain semakin dirancang agar lebih user-friendly.

Namun, penting untuk menyadari bahwa kemudahan penggunaan software tidak dapat menggantikan keahlian seorang desainer yang handal. Meskipun perangkat lunak memudahkan proses desain, kepiawaian seseorang dalam memanfaatkan berbagai alat dan teknik desain secara efektif tetap menjadi faktor utama. Desain grafis bukanlah sekadar tentang memilih template atau menyesuaikan elemen-elemen, tetapi melibatkan keahlian dalam menciptakan konsep-konsep unik, menguasai prinsip desain, dan memahami target audiens.

Selain itu, sebagian besar software desain yang sangat efektif seringkali tidak gratis, seperti Adobe Photoshop yang digunakan secara luas untuk mengedit gambar. Faktanya, biaya berlangganan per bulan untuk Adobe Photoshop dapat menjadi investasi yang signifikan, menunjukkan bahwa penggunaan perangkat lunak ini seringkali memerlukan komitmen finansial yang substansial. Desainer tidak hanya menghabiskan waktu untuk mempelajari teknis perangkat lunak ini, tetapi juga menyisihkan sumber daya untuk biaya langganan dan pembaruan.

Jadi, meskipun software desain memberikan kemudahan akses dan penggunaan, kehadiran seorang desainer yang berpengetahuan luas, kreatif, dan terampil tetap tak tergantikan dalam menghasilkan desain yang berkualitas dan berdaya saing.

3. Bekerja di Belakang Layar

Dikarenakan mayoritas desainer grafis bekerja di balik layar, pemahaman masyarakat terhadap aktivitas sehari-hari mereka sering kali terdistorsi. Banyak yang keliru menganggap bahwa desain hanyalah pekerjaan yang mudah, tanpa menyadari bahwa seorang desainer grafis harus terlibat dalam pemikiran kreatif yang mendalam dan menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Ketika banyak orang menggambarkan desain grafis sebagai dunia pelangi dan kupu-kupu, kenyataannya jauh dari kesan yang ringan tersebut. Desain grafis sebenarnya adalah perpaduan seni dan pemecahan masalah yang seringkali tidak terlihat oleh orang awam. Desainer grafis harus memikirkan berbagai aspek, seperti psikologi warna, tipografi, dan hierarki visual, untuk menciptakan karya yang tidak hanya menarik secara estetis tetapi juga efektif dalam menyampaikan pesan.

Proses kreatif yang terjadi di balik setiap desain melibatkan pemikiran yang mendalam untuk memahami tujuan proyek, audiens target, dan pesan yang ingin disampaikan. Desainer grafis juga harus memiliki kemampuan mengatasi tantangan dan menemukan solusi inovatif yang dapat membedakan karyanya dari yang lain.

Sehingga, meskipun sering dianggap sepele, desain grafis sebenarnya merupakan seni yang memerlukan dedikasi, pengetahuan mendalam, dan keahlian teknis untuk menghasilkan karya yang bermakna dan memenuhi kebutuhan klien.

4. Tekanan Kerja Gratisan

Kemudahan dalam berbagi konten, terutama di era digital, telah membuka pintu harapan yang mungkin kurang realistis terkait dengan upah bagi para desainer. Adanya ekspektasi bahwa desainer bisa atau bahkan seharusnya bekerja secara gratis atau dengan harga yang sangat rendah menjadi sebuah paradoks yang harus dihadapi. Klien seringkali mengajukan permintaan revisi tanpa henti atau mengharapkan desainer untuk menyelesaikan proyek-proyek kompleks tanpa memberikan imbalan yang sesuai.

Dampak dari fenomena ini sangat merugikan desainer, karena mereka mengalami penurunan nilai pada waktu, keterampilan, dan keahlian yang telah mereka kembangkan. Permintaan untuk bekerja tanpa bayaran atau dengan bayaran yang tidak sebanding tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap proses kreatif yang dilibatkan dalam setiap karya desain.

Meminta desainer untuk bekerja tanpa bayaran sering kali mengabaikan fakta bahwa di balik setiap proyek desain terdapat jam-jam kerja keras, penelitian, eksperimen, dan pengalaman. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang tidak adil antara nilai yang diberikan oleh desainer dan penghargaan yang diterima.

Menghargai proses yang dilakukan oleh desainer tidak hanya masuk akal secara etis, tetapi juga memastikan kelangsungan dan perkembangan industri desain. Klien dan pemangku kepentingan lainnya harus menyadari bahwa desain yang berkualitas memerlukan investasi yang setara, dan meresponsnya dengan memberikan imbalan yang adil akan mendorong kualitas dan inovasi dalam industri desain grafis.

Tips untuk Desainer Grafis Menuju Kesuksesan Profesional

desainer grafis

Dalam rangka memberikan penghargaan yang setara terhadap nilai karya desain, langkah-langkah berikut dapat ditempuh. Pertama-tama, penting untuk merinci portofolio dengan cermat, memastikan bahwa setiap karya yang dimasukkan mencerminkan sebaik mungkin kemampuan dan pengalaman desainer grafis. Portofolio ini harus lebih dari sekadar koleksi karya terbaik; ia seharusnya menjadi cerminan dari evolusi keterampilan dan inovasi desainer.

Selanjutnya, distribusi portofolio dapat diperluas melalui berbagai saluran, seperti media sosial, situs web pribadi, atau platform khusus desain. Penyebaran yang efektif akan membantu menciptakan jangkauan yang lebih luas dan meningkatkan daya tarik desainer bagi klien potensial, rekan seprofesi, dan audiens yang lebih besar.

Selain itu, desainer grafis juga dapat mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam kompetisi desain, pameran seni, atau forum industri terkait. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya dapat meningkatkan visibilitas, tetapi juga memberikan kesempatan untuk membangun jaringan dengan sesama profesional dan pihak-pihak terkait di industri desain.

Dengan menjalankan langkah-langkah ini secara konsisten, seorang desainer grafis dapat meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang setara dengan nilai karyanya dalam dunia desain grafis.

Selanjutnya, membangun jaringan hubungan tetap menjadi metode yang relevan dalam industri desain. Meskipun cara-cara digital dominan, hubungan personal dapat memberikan keuntungan, terutama bagi desainer pemula yang sedang memulai karirnya. Terkait dengan hal ini, tetap terkini dengan tren dan teknologi terbaru menjadi esensial, memberikan keunggulan kepada desainer yang selalu berada di garis depan.

Selain itu, pemahaman akan pentingnya branding pribadi menjadi kunci. Dengan membangun citra dan identitas yang kuat, desainer dapat menunjukkan nilai dan profesionalisme mereka kepada klien dan perusahaan. Contoh nyata dari seorang desainer di Bali menunjukkan bahwa branding diri dapat meningkatkan nilai karyanya secara signifikan dan menarik perhatian klien internasional.

Namun, di tengah pandangan umum yang menyederhanakan desain hanya sebagai karya visual, seringkali proses dan makna di balik desain terabaikan. Kenyataannya, desainer grafis tidak hanya menciptakan hasil akhir yang estetis, melainkan juga terlibat dalam konsep, sketsa, dan berbagai tahapan pemikiran kreatif yang mendalam.

Desainer grafis dan ilustrator 3

Banyak orang hanya melihat hasil akhir tanpa memahami proses kreatif yang melibatkan desainer dalam merancang dan memecahkan masalah. Ini mengakibatkan miskonsepsi seputar kompleksitas dan keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan desain grafis. Meskipun terkadang dianggap sebagai pekerjaan yang sederhana, desain grafis sebenarnya merupakan seni dan pemecahan masalah yang membutuhkan tingkat kreativitas dan keahlian berpikir tingkat tinggi.

Jadi, demikianlah beberapa alasan mengapa banyak jasa seorang desainer grafis yang masih belum mendapatkan penghargaan yang seharusnya. Banyak orang masih kurang memahami kompleksitas proses dibalik pembuatan desain yang efektif. Diperlukan upaya bersama untuk mengubah kondisi ini dengan mengakui kontribusi penting yang diberikan oleh desainer grafis terkait nilai sebenarnya dari desain grafis.

Ketidakpahaman tentang proses kreatif dan peran strategis desainer grafis seringkali menjadi hambatan. Melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap betapa pentingnya desain grafis dalam menyampaikan pesan, membangun merek, dan menciptakan pengalaman visual yang menarik, kita dapat memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap pekerjaan desainer grafis.

Penting untuk menggeser persepsi bahwa desain grafis hanyalah tugas sepele atau sekadar hobi, dan untuk menghargai betapa desainer grafis berperan dalam memenuhi kebutuhan komunikasi visual di berbagai industri. Masyarakat dan ekonomi dapat berperan dalam mendukung kondisi kerja yang adil dan pemberian kompensasi yang sesuai kepada desainer grafis. Dengan demikian, kita tidak hanya meresapi nilai sejati dari desain grafis, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan dan peningkatan kualitas dalam industri ini.

Ingin belajar mengenai desain grafis? Ayo ikuti Program Digital Design & Illustration di IDS Education!

College BTEC

Mengapa memilih IDS sebagai tempat belajar desain? Karena dalam Program Digital Design & Illustration kami, kamu akan belajar untuk menggabungkan pemikiran kreatif, estetika desain, pembuatan ilustrasi, dan strategi komunikasi guna menciptakan karya desain unggul yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kurikulum kami difokuskan pada aspek-aspek penting seperti tipografi, fotografi, ilustrasi, komposisi, dan pemahaman tentang pemanfaatan warna. Kami juga memberikan penekanan pada desain berbasis pengguna, termasuk design thinking, UI & UX. Kamu akan dibimbing dalam mengembangkan ide, merancang, dan menerapkan solusi desain yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan klien.

Tidak hanya itu, IDS juga memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kebutuhan bisnis, sehingga kamu siap untuk berkarir di berbagai sektor industri kreatif maupun lingkungan startup. Bergabunglah dengan kami untuk mengasah bakat dan pengetahuan kamu dalam dunia desain digital yang dinamis.