Blog

BAGIKAN

Berbagai Teknik yang Digunakan dalam 3D Printing

thumbnail 2

Tahukah kamu 3D printing? 3D printing adalah teknologi mencetak menggunakan mesin printing khusus sehingga hasil yang didapatkan berbentuk 3D. Diciptakan pertama kali oleh Chuck Hull dari 3D Systems Corp. Sejak saat itu 3D Printer terus berkembang dan digunakan secara luas seperti dalam bidang arsitektur, otomotif, militer, medis, fesyen, bahkan biotech. Dan rupanya, 3D printing mempunyai beberapa teknik loh dalam membuatnya. Apa saja sih? Berikut ulasannya!

1. Selective Laser Sintering (SLS)

SLS

Selective Laser Sintering (SLS) adalah teknik yang menggunakan laser sebagai sumber daya untuk membentuk objek 3D yang solid. Teknik ini dikembangkan oleh Carl Deckard, seorang mahasiswa Universitas Texas, dan profesornya Joe Beaman pada tahun 1980-an. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, sistem 3D Inc mengembangkan stereolithography, yang dalam beberapa hal sangat mirip dengan Selective Laser Sintering. Perbedaan utama antara SLS dan SLA adalah bahwa ia menggunakan bahan bubuk di dalam tong bukan resin cair, seperti stereolithography. Bahan yang akan dicetak mungkin terbuat dari nilon, keramik, dan kaca untuk beberapa logam seperti aluminium, baja atau perak. Karena berbagai bahan yang dapat digunakan dengan jenis printer 3d ini, teknologi SLS sangat populer untuk produk-produk 3D printing yang disesuaikan.

2. Stereolithography (SLA)

SLA adalah teknik pertama untuk 3D Printing. Caranya adalah menambahkan layer terus – menerus pada bahan photopolymer menuju ke atas. Material yang digunakan pada awalnya adalah liquid (cairan) dan akan mengeras ketika liquid tersebut terkena sinar ultraviolet.
Metode ini dipatenkan oleh Charles Hull, co-founder 3D Systems, Inc pada tahun 1986. Proses pencetakan melibatkan mesin cetak 3D yang dirancang secara unik.
Sebagian besar teknik pencetakan membutuhkan file bantuan komputer (CAD) untuk memproses objek. File CAD harus diubah menjadi format yang dapat dipahami oleh mesin cetak. Ada format Standar Tessellation Bahasa (STL) yang umum digunakan untuk stereolithography. Proses pencetakan meliputi beberapa langkah. Dimulai dari pembuatan model 3D dalam program CAD, perangkat lunak khusus memproses model CAD dan menghasilkan file STL yang berisi informasi untuk setiap lapisan.
Kemudian mesin SLA memaparkan plastik cair, dan laser mulai membentuk lapisan item. Setelah semua lapisan dicetak, objek perlu dibilas dengan pelarut dan kemudian ditempatkan dalam ultraviolet untuk menyelesaikan pemrosesan. Waktu yang diperlukan untuk mencetak objek tergantung pada ukuran printer 3D SLA yang digunakan. Barang-barang kecil dapat dicetak dalam 6-8 jam dengan mesin cetak kecil, sedangkan barang-barang besar memerlukan waktu pencetakan sampai beberapa hari.

3. Digital Light Processing (DLP)

DLP
Digital Light Processing adalah proses 3D Printing lain yang sangat mirip dengan stereolithography. Teknologi DLP diciptakan pada tahun 1987 oleh Larry Hornbeck dari Texas Instruments. Bahan yang digunakan untuk pencetakan adalah resin plastik cair yang ditempatkan dalam wadah resin transparan. Resin mengeras dengan cepat ketika dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang besar. Lapisan material yang dikeraskan dapat dibuat dengan printer tersebut dalam beberapa detik. Hasil pencetakan akan jauh lebih kuat dan memiliki resolusi yang sangat baik.
Keuntungan DLP  dengan SL adalah jauh lebih sedikit bahan yang digunakan untuk produksi, sehingga menghasilkan biaya lebih rendah.

4. Electronic Beam Melting (EBM)

EBM
Diciptakan oleh Arcam AB Inc, EBM adalah jenis lain dari manufaktur aditif untuk bagian-bagian logam. Perbedaan dengan SLM, SLM menggunakan sinar laser daya tinggi sebagai sumber tenaganya, sedangkan EBM menggunakan sinar elektron sebagai gantinya. Itulah hal yang membedakan antara kedua metode ini. Bahan yang digunakan dalam EBM adalah serbuk logam yang meleleh dan membentuk lapisan bagian 3D. Bertentangan dengan SLS, EBM digunakan untuk mencairkan serbuk logam sepenuhnya. Proses ini biasanya dilakukan di bawah suhu tinggi hingga 1000 ° C.  Dibandingkan dengan SLM, proses EBM agak lambat dan mahal. Selain itu, keterbatasan bahan juga menjadi kendala. Jadi, metode ini tidak begitu populer meskipun masih digunakan dalam beberapa proses manufaktur.

5. Selective Laser Melting (SLM)

SLM
Selective laser melting (SLM) adalah teknik yang juga menggunakan data CAD 3D sebagai sumber dan membentuk objek 3D dengan menggunakan sinar laser daya tinggi yang melebur. SLM dianggap sebagai subkategori laser sintering selektif (SLS), tapi ini tidak begitu benar karena proses SLM sepenuhnya melelehkan bahan logam menjadi bagian 3D-dimensi yang solid, tidak seperti Laser Sintering Selektif (SLS). Logam yang dapat digunakan untuk SLM termasuk stainless steel, titanium, krom kobalt dan aluminium. Metode pengukuran ini secara luas diterapkan pada bagian-bagian geometri dan struktur kompleks dengan permukaan dan saluran.

6. Fused Deposition Modelling (FDM)

FDM

Teknologi FDM tersebar luas saat ini di berbagai industri, seperti perusahaan mobil Hyundai dan BMW atau perusahaan makanan seperti Nestle dan Dial. FDM digunakan untuk pengembangan produk baru, konsep model dan prototipe. Bahkan dalam pengembangan manufaktur, teknologi ini dianggap mudah digunakan dan ramah lingkungan. Dengan menggunakan metode pencetakan ini, memungkinkan untuk membangun objek dengan geometri dan rongga yang kompleks.
Nah. itu dia teknik – teknik yang biasa digunakan dalam 3D printing, berbagai tekniknya memang cukup kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan orang yang benar-benar mahir untuk mengoperasikannya, agar memperoleh hasil yang baik dan berkualitas.

Buat kamu yang mau belajar soal 3D printing. Yuk! sekolah di IDS. IDS punya program belajar, kuliah 20 singkat dan Sekolah Animasi dengan para tenaga pengajar profesional di bidangnya. Selengkapnya bisa kalian cek di sini

Sumber: Teknik yang Digunakan dalam 3D Printing