Blog

BAGIKAN

Tips Menulis Teks Eksposisi di Skenario

Teks Eksposisi

Dalam memberikan informasi yang dibutuhkan penonton agar mereka paham pada narasi dan pengembangan plot mungkin agak sulit. Untuk mempermudahnya, penulis bisa mengajak penonton paham tentang dunia dan hal yang terjadi di film melalui eksposisi. Eksposisi yang disisipkan biasanya berisi informasi latar belakang yang relevan tentang latar, konteks, dan karakter untuk menetapkan asal-usul cerita. Lalu, apa sih teks eksposisi itu? Dan bagaimana cara penulis meletakkan eksposisi yang efektif? Yuk, simak selengkapnya!

Apa itu Eksposisi?

Eksposisi adalah informasi yang dibutuhkan penonton untuk memahami dunia yang ada di sebuah kisah atau cerita yang disajikan. Eksposisi biasanya menjelaskan orang, tempat, dan ide yang ada di dalam sebuah cerita sehingga penonton merasa ada di dalam kisah tersebut. Kalau di skrip film, teks eksposisi biasanya ditulis sebagai ‘backstory‘, yang mana menceritakan masa lalu dan latar belakang suatu peristiwa atau tentang karakter dengan visualisasi tertentu. Namun, fungsi eksposisi bukan hanya menjelaskan masa lalu, tetapi mulai dari peristiwa, twist, dan perkembangan serta pergerakan karakter di ‘masa depan’. 

Mengapa Eksposisi itu Penting?

Agar audiens paham dengan dunia dan peristiwa yang ingin diceritakan oleh penulis dan memikat mereka dalam memikirkan ekspektasi-ekspektasi yang mungkin terjadi di narasi. Dalam menulis eksposisi, bisa juga ditambahkan beberapa detail menarik yang memancing audiens dalam mendalami narasi.

Bagaimana Menulis Eksposisi yang Efektif?

  1. Jangan too much information. Misalnya di skenario itu ada monolog karakter tentang keadaan latar, monolog tersebut akan lebih menarik jika disampaikan secara eksposisi dalam bentuk konteks. Langsung ditunjukkan saja konteks informasi yang ingin diperlihatkan tanpa perlu pakai monolog. Maka, eksposisi yang baik bisa memberikan kesan yang kuat kepada audiens. Contohnya, monolog ingin menyampaikan kemegahan latar pesta, hal ini tidak diperlukan karena bisa langsung ditampilkan bagaimana visualisasi pesta yang megah tersebut yang sekiranya menimbulkan kesan megah.
  2. Lakukan intrik pada audiens. Maksudnya adalah berikan detail informasi yang cukup, tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi, detail yang diberikan tersebut bisa mengajak audiens untuk bertanya-tanya bagaimana kelanjutannya dan kenapa hal tersebut disertakan. Hal ini akan membawa audiens ke dalam cerita secara perlahan dan terkena intrik narasinya sehingga tidak bisa menebak bagaimana akhir ceritanya. Untuk film sci-fi mungkin membutuhkan lebih banyak eksposisi daripada studi karakter.jadi, penulis harus banyak mencari tahu informasi, melakukan riset dan percobaan, serta menemukan cara untuk mengkomunikasikan informasi dengan cara yang tidak terasa begitu jelas.
  3. Buatlah hal yang sudah pasti menarik. Eksposisi yang disampaikan jangan sampai membosankan. Eksposisi dianggap ‘kering’ jika hanya dengan pembacaan informasi, lebih baik eksposisi tersebut dileburkan dalam adegan karakter sehingga informasinya tetap terasa penting. Skill untuk mengeksekusi eksposisi secara artistik adalah hal yang membedakan antara penulis yang baik dan penulis yang hebat.
  4. Jangan takut untuk melanggar aturan. Misalnya penulis mau menyertakan monolog yang konteksnya jauh dari informasi yang disampaikan pada eksposisi, sebenarnya juga tidak masalah. Karena setiap film memiliki alur, pergerakan adegan, dan genrenya sendiri.


    Bahkan eksposisi refleksi diri bisa digunakan untuk efek komedi, contohnya dalam “
    The Great Muppet Caper” “Karakter Lady Holiday, sedang berbicara dengan Miss Piggy, yang baru saja dia pekerjakan sebagai resepsionisnya. Lady Holiday melakukan monolog 40 detik tentang makan siang bersama saudaranya, memberi tahu Piggy posisinya di dalam perusahaannya, kepribadiannya, kegagalannya, barang berharga miliknya, dsb. Lalu tiba-tiba ada scene dimana Piggy menyela monolognya dan bertanya kenapa Lady Holiday memberi tahu hal itu kepadanya. Dia pun menjawab ‘Ini eksposisi plot, jadi ya memang harus ada aja’. Eksposisi jenis ini masuk ke dalam plot, tetapi dengan selipan jokes.

Banyak sekali jenis pendekatan yang bisa dicoba dalam peletakan eksposisi. Dialog antara karakter, title cards, kilas balik, dan alat peraga semuanya dapat digunakan untuk menyampaikan eksposisi. Bereksperimen lah dengan berbagai pendekatan untuk menemukan yang paling sesuai dengan narasi. Eksposisi yang baik adalah tentang keseimbangan dan nada yang tepat dan biasanya memang ditemukan setelah banyak trial and error. Coba untuk menulis terus sehingga eksposisi dalam naskah dapat berkesan bagi audiens. 

Nah, agar kamu bisa bereksperimen sambil belajar lebih lanjut tentang penulisan skenario dan eksposisi dengan baik, dan ingin mempelajari dunia perfilman secara lebih mendalam, IDS | International Design School menyediakan Sekolah Film lho. Kamu juga bisa melanjutkan studi film-mu dan mendapatkan gelar Bachelor dari Universitas bertaraf international.

Source: backstage.com