Blog

BAGIKAN

Fakta Dunia Anime yang Berbeda dengan Dunia Nyata

Dunia Anime yang Berbeda dengan Dunia Nyata

Apakah kamu yang suka menonton anime? Lewat anime kita bisa melihat keseharian bahkan budaya di Jepang. Tidak heran kalau banyak orang menginginkan kehidupan yang seperti itu. Tema dalam beberapa anime memang digambarkan begitu manis, penuh warna dan romansa. Bahkan akhir-akhir ini candaan “ingin jadi anime” banyak dilontarkan warganet.

Namun pastinya kamu tidak benar-benar ingin hidup layaknya tokoh anime kan? Karena antara anime dengan dunia nyata memiliki perbedaan yang besar.

  1. Gambaran Kehidupan Romansa

Ada banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan di dunia nyata, oleh karena itu film, serial televisi, bahkan anime mencoba memberikan visualisasi dari impian tersebut. Romansa menjadi salah satu tema yang dipilih untuk menggambarkan kisah cinta yang ideal. Lewat anime kita sering disuguhkan kisah cinta yang terlalu manis sampai rasanya tidak mungkin ada kisah cinta yang seperti itu. 

Kisah cinta di anime juga selalu ditambah sang tokoh ketiga yang berperan sebagai penghalang tokoh utama. Padahal masalah dalam percintaan tidak melulu tentang pihak ketiga. Tidak seperti anime yang tokoh utamanya akan kembali bersama setelah mengalami konflik karena orang ketiga, nyatanya ketika hal ini benar terjadi maka hubungan tersebut akan berakhir.

Anime remaja yang berlatar sekolah sering sekali menjadikan rooftop sebagai tempat menjalin asmara. Tokoh utama sering menghabiskan waktu disini, mulai dari bermain, makan siang bersama, hingga menyatakan perasaan. Kenyataannya, di sekolah-sekolah Jepang rooftop menjadi tempat yang dilarang dimasuki oleh siswa. Dibuat peraturan seperti itu untuk mencegah siswa-siswa yang ingin melakukan bunuh diri. 

Mengirim surat cinta kepada orang yang disukai mungkin terdengar menggemaskan. Tapi kalau dipikir-pikir, cara menyatakan cinta seperti itu sudah ketinggalan jaman. Ketimbang menulis surat, berkirim pesan lewat pesan instan seharusnya dipilih bila malu menyatakan perasaan secara langsung.

  1. Kehidupan Sekolah Jepang

Bagi kita yang sudah mengetahui aktivitas bersekolah di Indonesia pasti terasa membosankan, memiliki pengalaman bersekolah di Jepang akan memberikan perasaan baru yang menyenangkan. Kebanyakan sekolah di anime digambarkan dengan meriah dan penuh warna. Meskipun tidak semua murid di Jepang memiliki sisi yang gelap, namun mereka memiliki tekanan tersendiri. Siswa di Jepang terikat dengan keharusan memiliki catatan prestasi yang baik. Bagi siswa yang memiliki nilai yang buruk akan diberi hukuman dan tidak memiliki alternatif untuk menjamin kehidupan yang sejahtera dan kehormatan bagi keluarga. Sosok guru juga mengambil peran sebagai seseorang yang memberi tekanan karena peran disiplin yang menakutkan. 

Kasus bunuh diri anak di Jepang juga memiliki catatan yang tinggi. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) masing-masing memiliki korbannya tersendiri. Alasan siswi di Jepang melakukan bunuh diri antara lain karena khawatir akan masa depan, memiliki masalah dengan keluarga, perundungan, dan alasan lainnya yang tidak diketahui. 

  1. Penampilan Karakter SMA

Sekolah di Jepang menerapkan aturan yang sangat ketat. Sekolah di Jepang sama sekali berbeda dengan anime. Anime seringkali menggambarkan karakter siswa dengan pakaian warna-warni, rambut mencolok, menggunakan berbagai aksesoris. Sebagai anak sekolah tentu mewarnai rambut dengan tatanan berbagai gaya tidak diperbolehkan. Memakai make up, menggunakan kontak lensa berwarna, serta melengkapi penampilan dengan aksesori termasuk larangan bagi siswa.

Kebanyakan seragam sekolah di anime berwarna cerah. Padahal sebetulnya kebanyakan seragam sekolah di Jepang memakai warna yang cenderung gelap. Bentuk seragam di anime juga beragam bentuknya, sementara hanya ada 3 bentuk seragam yang biasa dipakai siswa-siswi di jepang. Diantaranya:

  1. Seragam dengan kerah sailor. Seragam ini biasa dipakai siswa perempuan, warna rok akan senada dengan warna kemeja.
  2. Gakuran, adalah seragam umum siswa laki-laki. Berbentuk kemeja berkerah tinggi, dengan kancing emas, terkadang ada yang memakai dasi, serta celana yang berwarna sama.
  3. Blazer. Penggunaan blazer berlaku untuk siswa perempuan maupun laki-laki.

 

  1. Penampilan Tokoh Perempuan

Penampilan Tokoh Perempuan

Kerap kali tokoh perempuan pada anime digambarkan sebagai bentuk representasi ideal dari seorang laki-laki. Hal tersebut disebabkan karena kebanyakan animator yang juga laki-laki. Perempuan dengan kaki jenjang, tubuh kurus dan ramping, wajah rupawan, sering kali tampil dengan menggemaskan. Tak jarang juga karakter perempuan dalam anime tampil dengan dada yang besar, pinggul yang lebar, dan tubuh bertipe hourglass. Walaupun karakter tersebut hanya fiksi namun hal-hal seperti itu malah menegaskan bahwa seperti itulah seharusnya tampilan seorang wanita. 

Sumber: kelasanimasi.com